Setelah sekian lama saya berpaling dari blog ini, Alhamdulillah sesuatu banget karena akhirnya bisa kembali corat-coret lagi.
Kali ini pengen posting tulisan tentang ilmu yang saya dapet pas kuliah perilaku konsumen hari Kamis tanggal 8 Maret lalu (alasan pendukung lainnya karena pak Ujang Sumarwan a.k.a dosen perilkon saya meminta mahasiswanya untuk membuat tulisan tentang materi kuliah hari itu)
Guys, ane yakin ente sekalian pernah liat iklan anak kecil pulang sekolah nyariin ayamnya pas nanya sama neneknya eh tuh anak malah disuruh makan dulu, atau iklan ayah dan anak yang lagi sikat gigi di kamar mandi sambil joget-joget sama boyband SM*SH, iya kan? Pernahkan? *ngaku deh, pasti pernah. Nah beberapa iklan yang saya sebutkan tadi adalah contoh iklan yang menurut saya pribadi tergolong iklan yang unik karena mereka punya cara tersendiri dan gak biasa untuk menarik perhatiaan penonton yang liat iklan tersebut.
Nah, tulisan saya kali ini akan banyak membahas tentang pengolahan informasi dan persepsi konsumen.
So, cekidooot guys!!
Pengolahan informasi pada diri konsumen terjadi ketika salahsatu pancaindra konsumen menerima input dalam bentuk stimulus yang dapat berbentuk produk, nama merek, kemasan, iklan, dan nama produsen. Biasanya stimulus ini sengaja dirancang khusus sama produsen biar bisa menarik perhatian si konsumen. Nah, yang tak kalah penting adalah produsen harus memahami bagaimana konsumen mengolah informasi karena dari pengetahuan inilah produsen bisa merancang proses komunikasi yang efektif bagi konsumen.
Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1995) yang mengutip William McGuire ada lima tahapan pengolahan informasi yaitu:
1. Pemaparan (exposure)
2. Perhatian (attention)
3. Pemahaman (comprehension)
4. Penerimaan (acceptance)
5. Retensi (retention)
Biar lebih paham ilmunya dan nanti pas ujian lancar ngejawab soalnya, mari kita telaah satu persatu. :D
1. Pemaparan (exposure)
Pada tahapan pertama ini produsen akan melakukan penyampaian stimulus kepada konsumen. Banyak hal yang bisa dijadikan sebagai stimulus, produsen dapat menggunakan iklan, kemasan, merek, dan hadiah.
Biasanya setelah konsumen menerima stimulus melalui panca indranya maka ia akan merasakan sensasi alias respon langsung dan cepat terhadap stimulus yang ia rasakan. Setiap konsumen biasanya memilki tingkat sensasi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, Konsumen yang tinggal di Jakarta akan terbiasa mendengarkan berbagai bunyi kendaraan yang keras, baik dalam kondisi beraktivitas maupun saat tidur sekalipun berbeda halnya dengan konsumen yang tinggal di pedesaan dan tidak terbiasa dengan suara keras.
Sensasi dipengaruhi oleh ambang absolut dan ambang berbeda
a) Ambang Absolut
Merupakan jumlah minimum intensitas atau energi stimulus yang diperlukan oleh konsumen agar ia merasakan sensasi. Ambang ambsolut dianggap sebagai titik dimana seorang konsumen merasakan perbedaan antara "ada" dengan "tidak ada" dari suatu stimulus.
Contohnya, seorang kosnumen bisa melihat dan membaca merek suatu produk di billboard ukuran tulisan 30 cm mungkin dari jarak 200 meter, sedangkan konsumen lainnya bisa melihat itu dalam jarak 100 meter. Dan angka 200 meter-100 meter itulah yang disebut ambang absolut bagi konsumen.
Terkadang, konsumen memperoleh stimulus dengan intensitas yang sering dan sama. Pada awalnya, mungkin akan menarik perhatian konsumen, akan tetapi selanjutnya akan menimbulkan sensory adaptation atau adaptasi terhadap stimulus tersebut. Topik adaptasi ini menjadi perhatian para pemasar karena akan berakibat tidak efektifnya komunikasi yang disampaikan kepada konsumen.
Advertising wearout adalah sebuah keadaan dimana Konsumen mungkin akan merasa bosan dengan iklan yang terus menerus ditayangkan dan dilihat oleh mereka. Kemudian, konsumen akan lebih selektif nih dalam memilih stimulus mana yang akan dilihatnya, proses ini disebut selective exposure. Selain itu konsumen juga sering melakukan Zapping yaitu mengubah-ubah saluran ketika menonton televisi. Kebiasaan yang dilakukan konsumen seperti sensory adaptation, advertising wearout, selective exposure, dan zapping mendorong para pemasar dan pengiklan untuk lebih kreatif dalam merancang komunikasi pemasaran berbagai macam produknya.
Beberapa cara yang dapat dilakukan pihak pengiklan atau pemasar untuk menghadapi masalah diatas:
1. Meningkatkan intensitas stimulus
Penanyangan iklan pada pertandingan olah raga misal pertandingan tinju atau sepak bola, biasanya iklan yang di tampilkan hanya satu atau dua produk. Sehingga iklan tersebut ditayangkan berulang-ulang. Hal ini dapat meningkatkan intensitas stimulus.
2. Mengurangi intensitas stimulus
Dapat dilakukan dengan penayangan iklan tanpa suara atau iklan yang singkat, contohnya iklan provider 3 yang hanya menuliskan: 3 , Mau??. Hal ini bertujuan untuk mengurangi intensitas stimulus.
3. Memberikan variasi terhadap stimulus
Dapat dilakukan dengan membuat iklan menjadi beberapa versi. Misalnya iklan Pepsodent ‘Ayah Adi dan Dika’ yang memiliki variasi mulai ajakan ke dokter gigi hingga gerakan tarian 21 hari. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen dan menyebabkan rasa penasaran konsumen terhadap versi berikutnya.
Kedua gambar diatas merupakan contoh dari ambang batas pada billboard.
![]() |
| Gambar 1 |
![]() |
| Gambar 2 |
Kedua gambar diatas merupakan contoh dari ambang batas pada billboard.
b. Ambang berbeda
Menurut Schiffman dan Kanuk (2010) batas perbedaan terkecil yang dapat dirasakan antara dua stimulus yang mirip disebut sebagai ambang berbeda. Konsep ini juga dikenal dengan istilah The Just Noticeable Difference Threshold (JND). Konsep JND ini digambarkan dengan, apabila produsen ingin menurunkan harga produknya, berapa harga ynag harus diturunkan sehingga konsumen dapat merasakan adanya penurunan harga. Begitu pula dalam hal kenaikan harga. JND bertujuan agar (a) perubahan negatif terhadap produknya tidak nampak oleh konsumen (misalnya pengurangan ukuran, penurunan kualitas, atau kenaikan harga, perubahan ini diharapkan di bawah nilai JND) (b) perubahan positif terhadap produk harus terlihat oleh konsumen (misalkan perbaikan kemasan, peningkatan kualitas produk, atau penurunan harga)
2. Perhatian (attention)
Tahap berikutnya adalah perhatian. Stimulus yang dipaparkan oleh pemasar dan diterima konsumen tidak akan secara keseluruhan mendapatkan perhatian dan dilanjutkan pada tahap pengolahan stimulus. Konsumen memiliki keterbatasan sumber daya kognitif untuk mengolah informasi yang diterimanya sehingga hanya beberapa dari stimulus saja yang dapat diolah. Perhatian akan retrivial.dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor pribadi yang meliputi motivasi dan kebutuhan dan faktor stimulus yang meliputi ukuran stimulus, warna, intensitas, kontras, posisi, petunjuk, gerakan, kebauran, isolasi, stimulus yang disengaja, pemberi pesan yang menarik, dan perubahan gambar yang cepat.
![]() |
| contoh faktor stimulus pemberi pesan yang menarik |
3. Pemahaman (comprehension)
Pada tahap ketiga konsumen akan mengartikan atau menginterpretasikan stimulus. Biasanya Konsumen melakukan pengelompokan stimulus, sehingga memandangnya sebagai satu kesatuan. Hal ini disebut sebagai perceptual organization. Prinsip perceptual organization terdiri dari gambar dan latar belakang (figure and ground), pengelompokan (grouping) dan closure.
4. Penerimaan (acceptance)
Pada tahap penerimaan, setelah konsumen melihat stimulus, memperhatikan, dan memahami stimulus tersebut maka diambil satu kesimpulan mengenai stimulus tersebut. Hal ini disebut sebagai persepsi konsumen terhadap objek tersebut atau citra (images) produk.
5. Retensi (retention)
Tahapan terakhir yaitu retensi, proses memindahkan informasi ke memori jangka panjang. Informasi yang disimpan adalah interprestasi konsumen terhadap stimulus yang diterimanya. Setelah di simpan dalam memori jangka panjang, suatu saat konsumen akan memangil kembali atau mengingat informasi tersebut sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan, hal ini biasa disebut retrivial.
Arina Febriani
Class of Consumer Behavior February 2012
Department of Management
College of Economic and Management
Class note based on Ujang Sumarwan 2011
Consumer Behavior : Theory and Marketing Application (Perilaku Konsumen : Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran) PT Ghalia Indonesia
Department of Family and Consumer Sciences
College of Human Ecology
Bogor Agricultural University
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen - Fakultas Ekologi Manusia - Institut Pertanian Bogor



